SmartNers

SMART NERS EDUKASI


Pengertian

Obat merupakan semua zat kimiawi, hewani, nabati, yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan, dan mencegah penyakit/gejalanya yang diberikan kepada pasien dengan maksud tertentu sesuai dengan guna obat tersebut. Pemberian obat yang aman dan akurat adalah tanggung jawab penting bagi semua orang perawat. Meskipun obat menguntungkan, namun bukan berarti tanpa reaksi yang merugikan. Sebagai seorang perawat harus mengetahui prisip-prinsip dalam pemberian obat secara aman dan benar. Selain itu, perawat juga berperan penting karena perawat yang ebrtanggung jwab terhadap pemberian obat secara langsung kepada pasien. Sehingga dalam pemeberian obat perawar sering menggunakan konsep enam benar.

  1. Benar Pasien

Sebelum obat diberikan, identitas pasien ahrus diperiksa (papan identitas di temapt tidur, gelang identitas) atau ditanyakan langsung kepada pasien atau kelaurganya. Jika pasien tidak sanggup merespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai, misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri akibat gangguan mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang lain seperti menanyakan langsung kepada keluarganya. Bayi harus selalu diidentifikasi dari gelang identitasnya.

  1. Benar Obat

Obat memiliki nama dagang dan namamerk. Setiap obat dengan nama dagang yang kita asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa generiknya, bila perlu hubungi apoteker untuk menanyakan nama generiknya atau kandungan obat. Sebeum memberi obat kepada pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali. Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat., kedua label botol dibandingkan dengan oabt yang diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi.Jika pasien meragukan obatnya perawat harus memeriksanya lagi. Saat memberi obat, perawat harus ingat untuk apa obat itu diberikan. Ini memabntu mengingat nama obat dan kerjanya.

  1. Benar Dosis

Sebelum memberi obat, perawat ahrus memeriksa dosisnya. Jika ragu, perawat harus berkonsultasi dengan dokter yang menlis resep atau apoteker sebelum dilanjutkan ke pasien. Jika pasien meragukan dosisnya perata harus emmeriksanya lagi. Ada beberapa obat baik ampul maupun tablet memiliki dpsis berbeda tiap ampul atau tabletnya.

  1. Benar Cara/Rute

Obat dapat diberikan melalu sejumlah rute yang erbeda. Faktor yang menentukan pemebrian rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien, kecepatan respon yang diinginkan, sifat kimiawi dan fisik obat, serta tempat kerja yang diinginkan. Obat dapat diberikan secara peroral, sublingual, parenteral, topical, rektal, dan inhalasi.

  1. Benar Waktu

Ini sangat penting, khusunya bagi obat yang efektivitasnya tergantung untuk mencapau atau mempertahankan kadar darah yang emmadai. Jiak obat ahrus diminum sebelum amkan, untuk memperoleh kadar yang diperlukan, ahrus diberi satu jams ebelum amkan, ingat dalam pemberian antibiotic yang tidak boleh diberikan bersama susu akrean susu dapat mengikat sebagian besar obat itu sendiri sebelum dapat diserap. Ada obat yang harus diminum setelah makan, untuk menghidari iritasi yang berlebihan pada lambung.

  1. Benar Dokumentasi

Setelah oabt diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute, waktu, dan oleh siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum obatnya, atau obat itu tidak dapat diminum, harus dicatat alasannya dan dilaporkan. Perawat ebrtanggung jawab dalam pemberian obat obatan yang aman, perawat ahrus mengetahui semua komponen dari perintah pemebrian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atu dosis yang diberikan di luar batas yang direkomendasikan.

PERSIAPAN

  1. Identifikasi dan Persiapan Pasien :
    • Dokter harus selalu menuliskan identitas pasien (nama lengkap, umur, alamat), penghitungan dosis obat dan instruksi cara memberikan obat dalam resep dokter/ rekam medis pasien dengan jelas.
    • Sebelum melakukan injeksi, petugas yang akan memberikan suntikan harus selalu mengecek kembali identitas pasien dengan menanyakan secara langsung nama lengkap dan alamat pasien, menanyakan kepada keluarga yang menunggui pasien (bila pasien tidak sadar) atau dengan membaca gelang identitas pasien (bila pasien adalah pasien yang dirawat di rumah sakit) dan mencocokkannya dengan identitas pasien yang harus diberi injeksi.
    • Sebelum memberikan obat dan melakukan injeksi, dokter harus selalu menanyakan kepada pasien atau kembali melihat data rekam medis pasien :
      • Apakah pasien mempunyai riwayat alergi terhadap jenis obat tertentu.
      • Apakah saat ini pasien dalam keadaan hamil. Beberapa jenis obat mempunyai efek teratogenik terhadap fetus.
    • Berikan privacy kepada pasien, bila injeksi dilakukan di paha atas atau pantat. Lakukan injeksi dalam kamar pemeriksaan.
    • Beritahu pasien prosedur yang akan dilakukan. Bangunkan pasien bila sebelumnya pasien dalam keadaan tidur. Bila pasien tidak sadar, berikan penjelasan kepada keluarganya. Bila pasien tidak kooperatif (misalnya anak-anak atau pasien dengan gangguan jiwa), mintalah bantuan orang tuanya atau perawat.
    • Untuk mengurangi rasa takut pasien, untuk mengalihkan perhatian pasien, selama injeksi ajaklah pasien berbicara atau minta pasien untuk bernafas dalam.
  1. Persiapan obat: jenis, dosis dan cara pemberian obat serta kondisi fisik obat dan kontainernya.
    • Siapkan obat yang akan disuntikkan dan peralatan yang akan dipergunakan untuk menyuntikkan obat dalam satu tray. Jangan mulai menyuntikkan obat sebelum semua peralatan dan obat siap 
    • Sebelum menyuntikkan obat, instruksi pemberian obat dan label obat harus selalu dibaca dengan seksama (nama obat, dosis, tanggal kadaluwarsa obat), dan dicocokkan dengan jenis dan dosis obat yang harus disuntikkan kepada pasien 

    • Kondisi fisik obat dan kontainernya harus selalu dilihat dengan seksama, apakah ada perubahan fisik botol obat (segel terbuka, label nama obat tidak terbaca dengan jelas, kontainer tidak utuh atau retak) atau terjadi perubahan fisik pada obat (bergumpal, mengkristal, berubah warna, ada endapan, dan lain-lain).
    • Obat dalam bentuk serbuk harus dilarutkan menggunakan pelarut yang sesuai. Obat dilarutkan menjelang digunakan. Perhatikan instruksi melarutkan obat dan catatan. Catatan khusus setelah obat dilarutkan, misalnya stabilitas obat setelah dilarutkan dan kepekaan obat terhadap cahaya.
    • Dokter harus mengetahui efek potensial (efek yang diharapkan dan efek samping) dari pemberian obat.
    • Obat tidak boleh disuntikkan bila :
      • Ada ketidaksesuaian/ keraguan akan jenis atau dosis obat yang tersedia dengan instruksi dokter.
      • Ada ketidaksesuaian identitas pasien yang akan disuntik dengan identitas pasien dalam lembar instruksi injeksi.
      • Ada perubahan fisik pada obat atau kontainernya.
      • Tanggal kadaluwarsa obat telah lewat.
  1. Pemberian Obat Secara Parenteral

Rute pemberian obat adalah jalur masuknya obat ke dalam tubuh. Parenteral berarti diberikan dengan cara selain melalui saluran pencernaan. Obat-obatan yang diberikan melalui rute parenteral masuk ke jaringan tubuh dan sistem peredaran darah melalui suntikan. Tujuan dari pemberian obat secara parenteral yaitu :

    • Mendapatkan reaksi yang cepat, sehingga sering digunakan pada pasien yang sedang gawat darurat
    • Menghidari kerusakan jaringan
    • Memasukkan obta dalam volume yang lebih besar

Prosedur pemberian obat ini bersifat invasif dan sehingga menimbulkan risiko yang lebih besar dibandingkan dengan pemberian obat nonparenteral (lihat Bab 21). Karena infeksi berasal dari berbagai sumber, Anda harus menggunakan teknik aseptic (Tabel 22-1). Ada empat rute pemberian parenteral

    1. Injeksi subkutan: Injeksi ke dalam jaringan tepat di bawah dermis kulit
    2. Injeksi intramuskular (IM): Injeksi ke dalam tubuh otot
    3. Injeksi intradermal (ID): Injeksi ke dalam dermis saja di bawah epidermis
    4. Injeksi intravena (IV) atau infus: Injeksi ke dalam pembuluh darah

Setiap jenis injeksi memerlukan seperangkat keterampilan tertentu untuk memastikan bahwa obat mencapai lokasi yang tepat. Kegagalan untuk menyuntikkan obat dengan benar dapat mengakibatkan komplikasi seperti respons obat yang tidak tepat (misalnya, terlalu cepat atau terlalu lambat), cedera saraf dengan nyeri yang terkait, perdarahan lokal, nekrosis jaringan, dan steril abses. Saat ini ada semakin banyak bukti yang membahas praktik yang membahas tentang pedoman pemberian suntikan. Lebih dari 16 miliar suntikan pencegahan dan pengobatan diberikan setiap tahunnya (Cocoman dan Murray, 2010). dan Murray, 2010).

     

ALAT ALAT YANG DIPERLUKAN UNTUK INJEKSI

Penggunaan alat-alat yang tepat akan memudahkan pelaksana injeksi serta meminimalkan ketidaknyamanan dan efek samping bagi pasien.

  1. Kapas dan alkohol 70%
  2. Sarung tangan
  3. Obat yang akan diinjeksikan
  4. Jarum steril disposable Bagian-bagian jarum yaitu :
    • Lumen jarum (ruang di bagian dalam jarum di mana obat mengalir).
    • Bevel (bagian jarum yang tajam/ menusuk kulit).
    • Kanula (shaft, bagian batang jarum).

  


Standard panjang jarum adalah 0,5 – 6 inchi. Pemilihan panjang jarum tergantung pada teknik pemberian obat, sementara pemilihan ukuran jarum tergantung pada viskositas obat yang disuntikkan. Ukuran jarum diberi nomor 14-27. Makin besar angka, makin kecil diameter jarum. Jarum berukuran kecil dipergunakan untuk obat yang encer atau cair, sementara jarum diameter besar dipergunakan untuk obat yang kental.

  1. Spuit

Spuit terdiri dari bagian-bagian :

    • Tutup spuit (cap)
    • Jarum
    • Adapter
    • Barrel : di dinding barrel terdapat skala 0.01, 0.1, 0.2 atau 1 mL

    • Plunger : untuk mendorong obat dalam barrel masuk ke dalam tubuh.

Penyiapan Jarum, Spuit dan Obat untuk Injeksi

  1. Tentukan jenis obat dan teknik injeksi yang akan dilakukan.
  2. Cuci tangan dengan seksama.
  3. Pemilihan jarum : Panjang jarum ditentukan oleh teknik injeksi, sementara ukuran jarum ditentukan oleh jenis obat yang diinjeksikan.
    • Injeksi subkutan memerlukan jarum yang pendek. Panjang jarum ½ - 7/8” dengan ukuran jarum 23 – 25.
    • Injeksi Intradermal memerlukan jarum yang lebih pendek dibanding jarum untuk injeksi subkutan, yaitu panjang ¼ - ½” dengan ukuran jarum 26.
    • Injeksi intramuskuler memerlukan jarum yang lebih panjang, yaitu 1” – 1.5” dengan ukuran jarum 20 – 22.

4. Pemilihan Spuit :

    • Pemilihan ukuran spuit tergantung volume dan viskositas obat yang diinjeksikan. Cek kapasitas spuit, pastikan spuit dapat menampung volume obat.
    • Kapasitas spuit dinyatakan dengan mL atau cc (cubic centimeter). Lihat apakah skala pada dinding spuit tertera dengan jelas dan dapat dipergunakan untuk menentukan dosis obat dengan tepat.
    • Peralatan untuk injeksi harus steril. Lihat adanya kerusakan fisik pada jarum dan spuit, misalnya segel terbuka, ada tanda karat pada jarum, adanya air dalam spuit dan lain-lain.

5. Pemasangan jarum pada spuit :

    • Keluarkan spuit dari kemasannya.
    • Jangan menyentuh bagian steril dari spuit, yaitu bagian adapter dan batang plunger, karena bagian-bagian tersebut akan berkontak dengan jarum dan bagian dalam barrel. Kontaminasi bagian-bagian tersebut berpotensi menularkan infeksi kepada pasien.
    • Segel karet (rubber stopper) di dalam barrel dilihat apakah menempel erat pada puncak plunger sehingga tidak terlepas waktu plunger digerakkan, dan cukup rapat menutup diameter barrel sehingga tidak ada cairan obat yang merembes keluar.
    • Spuit dipegang dengan tangan kiri dan plunger ditarik keluar masuk barrel beberapa kali. Dirasakan apakah tahanan cukup dan plunger bergerak cukup mudah. Dilihat apakah posisi segel karet berubah.
    • Kemasan jarum disobek di bagian pangkal jarum sehingga pangkal jarum keluar. Dikeluarkan dari kemasan dengan memegang tutup jarum, hindarkan memegang bagian hub jarum.
    • Tutup adapter spuit dibuka dan pasangkan hub jarum ke adapter spuit. Kencangkan jarum dengan memutarnya ke kanan (seperempat putaran), pastikan jarum telah cukup kencang pada spuit.
    • Tutup jarum dibuka. Dilihat apakah jarum lurus, ujung jarum rata dan runcing, serta tidak ada karat di permukaan jarum.

6. Aspirasi obat dari dalam vial :

    • Buka logam penutup karet vial. Bersihkan tutup karet vial dengan kapas alkohol, biarkan mengering.
    • Tusukkan jarum sampai ujung jarum melewati tutup karet, bevel jarum menghadap ke atas. Bagian hub jarum jangan menyentuh tutup karet.
    • Dengan posisi kedua tangan seperti pada gambar 7 di bawah, aspirasi obat dengan menarik plunger perlahan, sampai sejumlah volume obat yang akan diinjeksikan kepada pasien, ditambahkan sedikit (±2 mL). Selama aspirasi, ujung jarum harus selalu berada di bawah permukaan cairan supaya udara tidak masuk ke dalam spuit.

    • Jika obat masih berupa serbuk, obat harus dilarutkan lebih dulu dengan pelarutnya dan dikocok hingga obat benar-benar terlarut dengan sempurna. Jumlah pelarut sesuai dengan instruksi pabrik. Prosedur mengaspirasi pelarut sama dengan prosedur aspirasi obat yang sudah berbentuk larutan.
    • Setelah obat terlarut sempurna, ganti jarum pada spuit dengan jarum baru, dan aspirasi larutan seperti cara di atas. - Setelah obat diaspirasi sesuai keperluan, tarik spuit keluar vial. Cek apakah jumlah obat yang diaspirasi sudah sesuai dosis + 0,2 mL.

7. Aspirasi obat dari dalam ampul :

    • Kibaskan atau ketuk-ketuk bagian atas ampul supaya cairan obat yang terjebak di leher dan bagian atas ampul turun ke bawah
    • Bersihkan leher ampul dengan kapas alkohol.
    • Pegang bagian bawah dan atas ampul dengan kedua tangan dan patahkan leher ampul

    • Lihat larutan obat di dalam ampul, adakah pecahan kaca ampul di dalamnya. Jika ada pecahan kaca, ampul harus dibuang.
    • Aspirasi larutan obat dari dalam ampul menggunakan spuit yang sudah disiapkan dengan cara
      • ampul dipegang dengan tangan kiri, diaspirasi menggunakan spuit yang dipegang dengan tangan kanan, atau
      • letakkan ampul di meja yang datar, pegang ampul dengan tangan kiri, diaspirasi menggunakan spuit yang dipegang dengan tangan kanan. Sembari diaspirasi, jarum harus berada di bawah permukaan cairan
    • Obat diaspirasi sesuai dosis yang diperlukan, ditambah 0,2 mL.
    • Keluarkan spuit dari ampul, dan lihat apakah volume obat sudah sesuai dosis.

Untuk menghilangkan gelembung udara pada spuit lihat step 4j.

    1. Pegang jarum dengan posisi seperti step 4j, lubang jarum menghadap ke atas.
    2. Tarik plunger perlahan, supaya cairan obat dalam batang jarum masuk ke dalam barrel.
    3. Ketuk-ketuk barrel perlahan supaya gelembung udara naik ke permukaan cairan.
    4. Dorong plunger perlahan, sehingga cairan obat naik sampai hub jarum dan gelembung udara keluar dari lubang jarum.
    5. Dorong plunger sampai sejumlah kecil cairan obat (± 0,2 mL) terbuang.
    6. Cek kembali ketepatan dosis obat. - Obat siap diinjeksikan.

 

  1. INJEKSI SUBKUTAN

Obat diinjeksikan ke dalam jaringan di bawah kulit (subkutis). Obat yang diinjeksikan secara subkutan biasanya adalah obat yang kecepatan absorpsinya dikehendak i lebih lambat dibandingkan injeksi intramuskuler atau efeknya diharapkan bertahan lebih lama. Obat yang diinjeksikan secara subkutan harus obat-obat yang dapat diabsorpsi dengan sempurna supaya tidak menimbulkan iritasi jaringan lemak subkutan. Indikasi injeksi subkutan antara lain untuk menyuntikkan adrenalin pada shock anafilaktik, atau untuk obat-obat yang diharapkan mempunyai efek sistemik lama, misalnya insulin pada penderita diabetes. Injeksi subkutan dapat dilakukan di hampir seluruh area tubuh, tetapi tempat yang dipilih biasanya di sebelah lateral lengan bagian atas (deltoid), di permukaan anterior paha (vastus lateralis) atau di pantat (gluteus). Area deltoid dipilih bila volume obat yang diinjeksikan sebanyak 0.5 – 1.0 mL atau kurang. Jika volume obat lebih dari itu (sampai maksimal 3 mL) biasanya dipilih di area vastus lateralis.

Cara melakukan injeksi subkutan adalah :

    1. Pilih area injeksi.
    2. Sterilkan area injeksi dengan kapas alkohol 70% dengan gerakan memutar dari pusat ke tepi. Buka tutup jarum dengan menariknya lurus ke depan (supaya jarum tidak bengkok), letakkan tutup jarum pada tray/ tempat yang datar.
    3. Stabilkan area injeksi dengan mencubit kulit di sekitar tempat injeksi dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri (jangan menyentuh tempat injeksi).
    4. Pegang spuit dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan, bevel jarum menghadap ke atas.
    5. Jarum ditusukkan menembus kulit, sampai jaringan lemak di bawah kulit sampai kedalaman kurang lebih ¾ panjang jarum. Arah jarum pada injeksi subkutan adalah membentuk sudut 450 terhadap permukaan kulit.
    6. Lepaskan cubitan dengan tetap menstabilkan posisi spuit

  1. INJEKSI INTRAMUSKULAR

Obat-obat yang diberikan secara injeksi intramuskuler adalah obat-obat yang menyebabkan iritasi jaringan lemak subkutan dengan onset aksi obat relatif cepat dan durasi kerja obat cukup panjang. Obat yang diinjeksikan ke dalam otot membentuk deposit obat yang diabsorpsi secara gradual ke dalam pembuluh darah. Teknik injeksi intramuskuler adalah teknik injeksi yang paling mudah dan paling aman, meski teknik injeksi intramuskuler memerlukan otot dalam keadaan relaksasi sehingga sangat penting pasien dalam keadaan rileks.

Lokasi injeksi Panjang jarum yang digunakan biasanya 1-1.5” dengan ukuran jarum 20-22. Tempat yang dipilih adalah tempat yang jauh dari arteri, vena dan nervus, misalnya :

    1. Regio Gluteus (gambar 12

    • Jika volume obat lebih dari 1 mL, biasanya dipilih daerah gluteus karena otot-otot di daerah gluteus tebal sehingga mengurangi rasa sakit dan kaya vaskularisasi sehingga absorpsi lebih baik.
    • Volume obat yang diinjeksikan maksimal 5 mL. Jika volume obat lebih dari 5 mL, maka dosis obat dibagi 2 kali injeksi.
    • Penentuan lokasi injeksi harus ditentukan secara tepat untuk menghindarkan trauma dan kerusakan ireversibel terhadap tulang, pembuluh darah besar dan nervus sciaticus, yaitu di kuadran superior lateral gluteus.
    • Posisi pasien paling baik adalah berbaring tengkurap dengan regio gluteus terpapar.
    • Paling mudah dilakukan, namun angka terjadi komplikasi paling tinggi.
    • Hati-hati terhadap nervus sciaticus dan arteri glutea superior

b. Regio superior lateral femur

    • Yang diinjeksi adalah m. vastus lateralis, salah satu otot dari 4 otot dalam kelompok quadriceps femoris, berada di regio superior lateral femur. Titik injeksi kurang lebih berada di antara 5 jari di atas lutut sampai 5 jari di bawah lipatan inguinal.
    • Pada orang dewasa, m. vastus lateralis terletak pada sepertiga tengah paha bagian luar. Pada bayi atau orang tua, kadang-kadang kulit di atasnya perlu ditarik atau sedikit dicubit untuk membantu jarum mencapai kedalaman yang tepat.
    • Meski di area ini tidak ada pembuluh darah besar atau syaraf utama, kadang dapat terjadi trauma pada nervus cutaneus femoralis lateralis superficialis.
    • Jangan melakukan injeksi terlalu dekat dengan lutut atau inguinal.
    • Pada orang dewasa, volume obat yang diijeksikan di area ini sampai 2 mL (untuk bayi kurang lebih 1 mL).
    • Merupakan area injeksi intramuskuler pilihan pada bayi baru lahir (pada bayi baru lahir jangan melakukan injeksi intramuskuler di gluteus, karena otot-otot regio gluteus belum sempurna sehingga absorpsi obat kurang baik dan risiko trauma nervus sciaticus mengakibatkan paralisis ekstremitas bawah.
    • Posisi pasien dalam keadaan duduk atau berdiri dengan bagian kontralateral tubuh ditopang secara stabil.

c. Regio femur bagian depan

    • Yang diinjeksi adalah m. rectus femoris. Pada orang dewasa terletak pada regio femur 1/3 medial anterior.
    • Pada bayi atau orang tua, kadang-kadang kulit di atasnya perlu ditarik atau sedikit dicubit untuk membantu jarum mencapai kedalaman yang tepat.
    • Pada orang dewasa, volume obat yang diijeksikan di area ini sampai 2 mL (untuk bayi kurang lebih 1 mL).
    • Lokasi ini jarang digunakan, namun biasanya sangat penting untuk melakukan auto - injection, misalnya pasien dengan riwayat alergi berat biasanya menggunakan tempat ini untuk menyuntikkan steroid injeksi yang mereka bawa ke mana-mana.

d. Regio deltoid

    1. Pasien dalam posisi duduk. Lokasi injeksi biasanya di pertengahan regio deltoid, 3 jari di bawah sendi bahu (gambar 14). Luas area suntikan paling sempit dibandingkan regio yang lain.
    2. Indikasi injeksi intramuskuler antara lain untuk menyuntikkan antibiotik, analgetik, anti vomitus dan sebagainya.
    3. Volume obat yang diinjeksikan maksimal 1 mL.
    4. Organ penting yang mungkin terkena adalah arteri brachialis atau nervus radialis. Hal ini terjadi apabila kita menyuntik lebih jauh ke bawah daripada yang seharusnya.
    5. Minta pasien untuk meletakkan tangannya di pinggul (seperti gaya seorang peragawati), dengan demikian tonus ototnya akan berada kondisi yang mudah untuk disuntik dan dapat mengurangi nyeri.

Prosedur injeksi intramuskuler

  • Regangkan kulit di atas area injeksi. Jarum akan lebih mudah ditusukkan bila kulit teregang. Dengan teregangnya kulit, maka secara mekanis akan membantu mengurangi sensitivitas ujung-ujung saraf di permukaan kulit (gambar 15)
  • Spuit dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan.

  • Jarum ditusukkan dengan cepat melalui kulit dan subkutan sampai ke dalam otot dengan jarum tegak lurus terhadap permukaan kulit, bevel jarum menghadap ke atas (gambar 16).

  • Setelah jarum berada dalam lapisan otot, lakukan aspirasi untuk mengetahui apakah jarum mengenai pembuluh darah atau tidak (gambar 17)

  • Injeksikan obat dengan ibu jari tangan kanan mendorong plunger perlahan-lahan, jari telunjuk dan jari tengah menjepit barrel tepat di bawah kait plunger.
  • Setelah obat diinjeksikan seluruhnya, tarik jarum keluar dengan arah yang sama dengan arah masuknya jarum dan masase area injeksi secara sirkuler menggunakan kapas alkohol kurang lebih 5 detik.
  • Melakukan kontrol perdarahan.
  • Pasang plester di atas luka tusuk.
  • Lakukan observasi terhadap pasien beberapa saat setelah injeksi.
  1. INJEKSI INTRADERMAL

Pada injeksi Intradermal, obat disuntikkan ke dalam lapisan atas dari kulit. Teknik injeksi Intradermal sering merupakan bagian dari prosedur diagnostik, misalnya tes tuberkulin, atau tes alergi (skin test), di mana biasanya hanya disuntikkan sejumlah kecil obat sebelum diberikan dalam dosis yang lebih besar dengan teknik lain (misal : diinjeksikan 0,1 mL antibiotik secara Intradermal untuk skin test sebelum diberikan dosis lebih besar secara intravena). Indikasi injeksi intra dermal antara lain untuk vaksinasi BCG, skin test sebelum menyuntikkan antibiotika dan injeksi alergen (contoh : injeksi lamprin untuk desensitisasi).

Panjang jarum yang dipilih adalah ¼ - 1/2” dan spuit ukuran 26. Biasanya yang sesuai ukuran itu adalah spuit tuberkulin atau spuit insulin. Tempat injeksi yang dipilih biasanya bagian medial/ volair dari regio antebrachii.

Prosedur injeksi Intradermal :

    1. Posisi pasien : pasien duduk dengan siku kanan difleksikan, telapak tangan pada posisi supinasi, sehingga permukaan volair regio antebrachii terekspos.
    2. Tentukan area injeksi.
    3. Lakukan sterilisasi area injeksi dengan kapas alkohol.
    4. Fiksasi kulit : menggunakan ibu jari tangan kiri, regangkan kulit area injeksi, tahan sampai bevel jarum dinsersikan
    5. Pegang spuit dengan tangan kanan, bevel jarum menghadap ke atas. Jangan menempatkan ibu jari atau jari lain di bawah spuit karena akan menyebabkan sudut jarum lebih dari 150 sehingga ujung jarum di bawah dermis.
    6. Jarum ditusukkan membentuk sudut 150 terhadap permukaan kulit, menelusuri epidermis. Tanda bahwa ujung jarum tetap berada dalam dermis adalah terasa sedikit tahanan. Bila tidak terasa adanya tahanan, berarti insersi terlalu dalam, tariklah jarum sedikit ke arah luar.
    7. Obat diinjeksikan, seharusnya muncul indurasi kulit, yang menunjukkan bahwa obat berada di antara jaringan intradermal.
    8. Setelah obat diinjeksikan seluruhnya, tarik jarum keluar dengan arah yang sama dengan arah masuknya jarum.
    9. Jika tidak terjadi indurasi, ulangi prosedur injeksi di sisi yang lain. j. Pasien diinstruksikan untuk tidak menggosok, menggaruk atau mencuci/ membasahi area injeksi.
    10. Tes tuberkulin : pasien diinstruksikan untuk kembali setelah 48-72 jam untuk dilakukan evaluasi hasil tes tuberkulin.
    11. Skin test/ apadllergy test : reaksi akan muncul dalam beberapa menit, berupa kemerah-merahaan kulit di sekitar tempat injeksi.

Tanda bahwa injeksi intradermal berhasil adalah terasa sedikit tahanan saat jarum dimasukkan dan menelusuri dermis serta terjadinya indurasi kulit sesudahnya.

  1. INJEKSI INTRAVENA

Injeksi intravena dbiasanya dilakukan terhadap pasien yang dirawat di rumah sakit. Injeksi intravena dapat dilakukan secara :

    1. Bolus : sejumlah kecil obat diinjeksikan sekaligus ke dalam pembuluh darah menggunak an spuit perlahan-lahan.
    2. Infus intermiten : sejumlah kecil obat dimasukkan ke dalam vena melalui cairan infus dalam waktu tertentu, misalnya Digoksin dilarutkan dalam 100 mL cairan infus yang diberikan secara intermiten).
    3. Infus kontinyu : memasukkan cairan infus atau obat dalam jumlah cukup besar yang dilarutkan dalam cairan infus dan diberikan dengan tetesan kontinyu.

Jenis obat yang diberikan dengan injeksi intravena adalah antibiotik, cairan intravena, diuretik, antihistamin, antiemetik, kemoterapi, darah dan produk darah. Untuk injeksi bolus, vena yang dipilih antara lain vena mediana cubitii dengan alasan lokasi superficial, terfiksir dan mudah dimunculkan. Untuk infus intermiten dan kontinyu dipilih dipilih vena yang lurus (menetap) dan paling distal atau dimasukkan melalui jalur intravena yang sudah terpasang.

Prosedur injeksi intravena

    1. Tidak boleh ada gelembung udara di dalam spuit. Partikel obat benar-benar harus terlarut sempurna.
    2. Melakukan pemasangan torniket 2 – 3 inchi di atas vena tempat injeksi akan dilakukan
    3. Melakukan desinfeksi lokasi pungsi secara sirkuler, dari dalam ke arah luar dengan alkohol 70%, biarkan mengering.
    4. Cara melakukan injeksi intravena :
    • Spuit dipegang dengan tangan kanan, bevel jarum menghadap ke atas.
    • Jarum ditusukkan dengan sudut 150 – 300 terhadap permukaan kulit ke arah proksimal sehingga obat yang disuntikkan tidak akan mengakibatkan turbulensi ataupun pengkristalan di lokasi suntikan.
    • Lakukan aspirasi percobaan.
      1. Bila tidak ada darah, berarti ujung jarum tidak masuk ke dalam pembuluh darah. Anda boleh melakukan probing dan mencari venanya, selama tidak terjadi hematom. Pendapat yang lain menganjurkan untuk mencabut jarum dan mengulang prosedur. 2Bi
      2. la darah mengalir masuk ke dalam spuit, berwarna merah terang, sedikit berbuih, dan memiliki tekanan, berarti tusukan terlalu dalam dan ujung jarum masuk ke dalam lumen arteri. Segera tarik jarum dan langsung lakukan penekanan di bekas lokasi injeksi tadi.
      3. Bila darah yang mengalir masuk ke dalam spuit berwarna merah gelap, tidak berbuih dan tidak memiliki tekanan, berarti ujung jarum benar telah berada di dalam vena. Lanjutkan dengan langkah berikutnya.
    • Setelah terlihat darah memasuki spuit, lepaskan torniket dengan hati-hati (supaya tidak menggeser ujung jarum dalam vena) dan tekan plunger dengan sangat perlahan sehingga isi spuit memasuki pembuluh darah.
    • Setelah semua obat masuk ke dalam pembuluh darah pasien, tarik jarum keluar sesuai dengan arah masuknya.
    • Tekan lokasi tusukan dengan kapas kering sampai tidak lagi mengeluarkan darah, kemudian pasang plester.

Bila injeksi dimasukkan melalui jalur intravena yang sudah terpasang :

    • Tidak perlu memasang torniket.
    • Lakukan desinfeksi pada karet infus yang dengan kapas alkohol 70%, tunggu mengering.
    • Injeksikan obat melalui jalur intravena dengan sangat perlahan.
    • Setelah semua obat diinjeksikan, tarik jarum keluar. Lihat apakah terjadi kebocoran pada karet jalur intravena.
    • Lakukan flushing, dengan cara membuka pengatur tetesan infus selama 30-60 detik untuk membilas selang jalur intravena dari obat.
    • Injeksi intravena harus dilakukan dengan sangat perlahan, yaitu minimal dalam 50-70 detik, supaya kadar obat dalam darah tidak meninggi terlalu cepat

.

Share This Article

Live Chat Konsultasi